Menggalakkan “Study Tour” Lokal untuk Anak Sekolah
Wisata kini sudah menjadi komoditi yang sangat potensial bagi pertumbungan ekonomi masyarakat. Mengetahui hal tersebut, kini telah banyak dibentuk kelompok sadar wisata atau biasa disebut Pokdarwis dengan harapan masyarakat bisa menikmati langsung pertumbuhan ekonomi dari sektor wisata. Dengan begitu sektor wisata tak hanya dikuasai oleh para pemodal besar yang biasanya mengorbankan masyarakat di sekitar kawasan wisata tersebut.
Di Kota Malang sendiri sudah banyak Pokdarwis yang aktif dan mulai menumbuhkan wisata di lingkungan mereka. Perlu diingat wisata tak hanya sekedar wisata alam seperti air terjun, pantai dan lain-lain, bukan pula selalu berbentuk taman hiburan atau buatan yang memerlukan modal yang tak sedikit. Banyak hal sekarang bisa dijadikan tempat wisata, misalnya saja belasan kampoeng tematik di Kota Malang sepert kampung warna-warni, kampung tridi, kampung trigi Glintung dan lain lain yang sukses menarik perhatian sehingga banyak pengunjung yang berdatangan.
Berkembangnya Pokdarwis dan wisata lokal ini harus segera kita dukung, jika tidak maka tak akan lama mereka bertahan dan lamban laun akan gulung tikar. Tak perlu menunggu wisatawan luar kota apalagi luar negeri untuk meramaikan dan menghidupkan wisata lokal ini. Kitalah yang harus aktif mendukung, dengan cara jangan lagi ada rasa malas atau malu dan hilangkan mindset tentang wisata lokal itu jelek, tak sebaik wisata yang ada di Kota atau daerah lain. Kalau bukan kita siapa lagi ?
Selain cara di atas tentunya pemerintah juga harus turut andil dalam melestarikan wisata lokal yang digagas sendiri oleh warganya. Caranya sangat banyak dan tak hanya sekedar memberikan dana bantuan saja, perlu ada kebijakan yang mendukung wisata lokal ini. Salah satu yang mungkin paling efektif yaitu menggalakkan kembali studi tour untuk anak sekolah, tentunya tujuannya di Kota sendiri tak perlu jauh-jauh pergi ke Jogja atau Bandung untuk berwisata. Perlu diketahui studi tour ini sudah banyak ditinggalkan oleh sekolah semenjak ada program sekolah gratis, banyak pihak yan takut jika mengadakan tarikan dana pada siswa.
Wisata kini sudah menjadi komoditi yang sangat potensial bagi pertumbungan ekonomi masyarakat. Mengetahui hal tersebut, kini telah banyak dibentuk kelompok sadar wisata atau biasa disebut Pokdarwis dengan harapan masyarakat bisa menikmati langsung pertumbuhan ekonomi dari sektor wisata. Dengan begitu sektor wisata tak hanya dikuasai oleh para pemodal besar yang biasanya mengorbankan masyarakat di sekitar kawasan wisata tersebut.
Di Kota Malang sendiri sudah banyak Pokdarwis yang aktif dan mulai menumbuhkan wisata di lingkungan mereka. Perlu diingat wisata tak hanya sekedar wisata alam seperti air terjun, pantai dan lain-lain, bukan pula selalu berbentuk taman hiburan atau buatan yang memerlukan modal yang tak sedikit. Banyak hal sekarang bisa dijadikan tempat wisata, misalnya saja belasan kampoeng tematik di Kota Malang sepert kampung warna-warni, kampung tridi, kampung trigi Glintung dan lain lain yang sukses menarik perhatian sehingga banyak pengunjung yang berdatangan.
Berkembangnya Pokdarwis dan wisata lokal ini harus segera kita dukung, jika tidak maka tak akan lama mereka bertahan dan lamban laun akan gulung tikar. Tak perlu menunggu wisatawan luar kota apalagi luar negeri untuk meramaikan dan menghidupkan wisata lokal ini. Kitalah yang harus aktif mendukung, dengan cara jangan lagi ada rasa malas atau malu dan hilangkan mindset tentang wisata lokal itu jelek, tak sebaik wisata yang ada di Kota atau daerah lain. Kalau bukan kita siapa lagi ?
Selain cara di atas tentunya pemerintah juga harus turut andil dalam melestarikan wisata lokal yang digagas sendiri oleh warganya. Caranya sangat banyak dan tak hanya sekedar memberikan dana bantuan saja, perlu ada kebijakan yang mendukung wisata lokal ini. Salah satu yang mungkin paling efektif yaitu menggalakkan kembali studi tour untuk anak sekolah, tentunya tujuannya di Kota sendiri tak perlu jauh-jauh pergi ke Jogja atau Bandung untuk berwisata. Perlu diketahui studi tour ini sudah banyak ditinggalkan oleh sekolah semenjak ada program sekolah gratis, banyak pihak yan takut jika mengadakan tarikan dana pada siswa.
Dengan mengintruksikan lewat diknas pendidikan setempat tentunya program ini akan dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. Dengan minimun kunjungan sekali dalam satu semester pastilah wisata lokal kita akan berkembang. Mari kita hitung kasarnya, satu sekolah dasar di Kota Malang ada sekitar 200 siswa dan anggap saja ada 200 sekolah dasar yang ikut berkunjung ke wisata lokal ini sudah jelas ada 40.000 pengunjung bukan. Belum untuk sekolah menengah nya pasti lebih banyak lagi.
Program tour wisata lokal ini sangat relevan untuk anak sekolah, karena di Kota Malang sendiri menyediakan belasan kampung tematik dan ini akan sesuai dengan pembelajaran mereka yang memakai kurikulum 2013 yang notabene pembelajaran tematik juga. Jadi selain wisata lokal yang terangkat siswa juga mendapatkan pembelajaran tambahan saat kegiatan ini. Untuk biaya tentunya sekolah harus membicarakannya dengan komite sekolah yang merupakan perwakilan wali siswa, karena lokasi yang tak jauh pastinya biaya yang dikeluarkan pun juga tak akan banyak.
Jika ini bisa terealisasi maka Pokdarwis harus selalu meningkatkan pelayanannya untuk menjamu semua pengunjung yang datang. Melengkapi fasilitas umum seperti jalan yang layak, kamar mandi, kantin, pamflet serta guide lokal harus diperhatikan agar siapapun yang datang memiliki kesan yang bagus. Kesan inilah yang nantinya akan membawa lebih banyak lagi pengunjung ke wisata lokal, apalagi dengan semakin cepatnya berita menyebar di media sosial kian menjadi nilai plus sendiri dalam promosi.
Bagi siswa dan pihak sekolah jangan ragu lagi untuk berkunjung sekaligus belajar di luar kelas, selain ilmu dan pengalaman yang di dapat, siswa dan guru bisa sekalian berwisata bukan. Jangan hanya berwisata di kelas 5 atau 6 saja, itupun hanya sekali waktu dan memilih lokasi yang jauh, tentunya memakan biaya yang mahal. Kenapa harus jauh-jauh jika di kota sendiri menyajikan banyak wisata edukasi yang menarik ?
Menggalakkan “Study Tour” Lokal untuk Anak Sekolah
Wisata kini sudah menjadi komoditi yang sangat potensial bagi pertumbungan ekonomi masyarakat. Mengetahui hal tersebut, kini telah banyak dibentuk kelompok sadar wisata atau biasa disebut Pokdarwis dengan harapan masyarakat bisa menikmati langsung pertumbuhan ekonomi dari sektor wisata. Dengan begitu sektor wisata tak hanya dikuasai oleh para pemodal besar yang biasanya mengorbankan masyarakat di sekitar kawasan wisata tersebut.
Di Kota Malang sendiri sudah banyak Pokdarwis yang aktif dan mulai menumbuhkan wisata di lingkungan mereka. Perlu diingat wisata tak hanya sekedar wisata alam seperti air terjun, pantai dan lain-lain, bukan pula selalu berbentuk taman hiburan atau buatan yang memerlukan modal yang tak sedikit. Banyak hal sekarang bisa dijadikan tempat wisata, misalnya saja belasan kampoeng tematik di Kota Malang sepert kampung warna-warni, kampung tridi, kampung trigi Glintung dan lain lain yang sukses menarik perhatian sehingga banyak pengunjung yang berdatangan.
Berkembangnya Pokdarwis dan wisata lokal ini harus segera kita dukung, jika tidak maka tak akan lama mereka bertahan dan lamban laun akan gulung tikar. Tak perlu menunggu wisatawan luar kota apalagi luar negeri untuk meramaikan dan menghidupkan wisata lokal ini. Kitalah yang harus aktif mendukung, dengan cara jangan lagi ada rasa malas atau malu dan hilangkan mindset tentang wisata lokal itu jelek, tak sebaik wisata yang ada di Kota atau daerah lain. Kalau bukan kita siapa lagi ?
Selain cara di atas tentunya pemerintah juga harus turut andil dalam melestarikan wisata lokal yang digagas sendiri oleh warganya. Caranya sangat banyak dan tak hanya sekedar memberikan dana bantuan saja, perlu ada kebijakan yang mendukung wisata lokal ini. Salah satu yang mungkin paling efektif yaitu menggalakkan kembali studi tour untuk anak sekolah, tentunya tujuannya di Kota sendiri tak perlu jauh-jauh pergi ke Jogja atau Bandung untuk berwisata. Perlu diketahui studi tour ini sudah banyak ditinggalkan oleh sekolah semenjak ada program sekolah gratis, banyak pihak yan takut jika mengadakan tarikan dana pada siswa.
Dengan mengintruksikan lewat diknas pendidikan setempat tentunya program ini akan dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. Dengan minimun kunjungan sekali dalam satu semester pastilah wisata lokal kita akan berkembang. Mari kita hitung kasarnya, satu sekolah dasar di Kota Malang ada sekitar 200 siswa dan anggap saja ada 200 sekolah dasar yang ikut berkunjung ke wisata lokal ini sudah jelas ada 40.000 pengunjung bukan. Belum untuk sekolah menengah nya pasti lebih banyak lagi.
Program tour wisata lokal ini sangat relevan untuk anak sekolah, karena di Kota Malang sendiri menyediakan belasan kampung tematik dan ini akan sesuai dengan pembelajaran mereka yang memakai kurikulum 2013 yang notabene pembelajaran tematik juga. Jadi selain wisata lokal yang terangkat siswa juga mendapatkan pembelajaran tambahan saat kegiatan ini. Untuk biaya tentunya sekolah harus membicarakannya dengan komite sekolah yang merupakan perwakilan wali siswa, karena lokasi yang tak jauh pastinya biaya yang dikeluarkan pun juga tak akan banyak.
Jika ini bisa terealisasi maka Pokdarwis harus selalu meningkatkan pelayanannya untuk menjamu semua pengunjung yang datang. Melengkapi fasilitas umum seperti jalan yang layak, kamar mandi, kantin, pamflet serta guide lokal harus diperhatikan agar siapapun yang datang memiliki kesan yang bagus. Kesan inilah yang nantinya akan membawa lebih banyak lagi pengunjung ke wisata lokal, apalagi dengan semakin cepatnya berita menyebar di media sosial kian menjadi nilai plus sendiri dalam promosi.
Bagi siswa dan pihak sekolah jangan ragu lagi untuk berkunjung sekaligus belajar di luar kelas, selain ilmu dan pengalaman yang di dapat, siswa dan guru bisa sekalian berwisata bukan. Jangan hanya berwisata di kelas 5 atau 6 saja, itupun hanya sekali waktu dan memilih lokasi yang jauh, tentunya memakan biaya yang mahal. Kenapa harus jauh-jauh jika di kota sendiri menyajikan banyak wisata edukasi yang menarik ?
Manfaat Wisata Edukasi Sekolah
MANFAAT FIELD TRIP SEKOLAH
Seperti yang kita ketahui dari kegiatan pembelajaran di sekolah, selain melakukan aktivitas belajar di kelas, terdapat juga beberapa sekolah yang menerapkan konsep studi lapangan atau yang biasa disebut dengan Fieldtrip ini. Fieldtrip merupakan suatu istilah yang memiliki arti studi lapangan yang dilakukan oleh para siswa untuk belajar dan melakukan trip menuju luar lapangan sekolah. Mungkin tidak semua sekolah mampu menyelanggarakan kegiatan tersebut karena mengingat jumlah siswa yang tidak mungkin untuk melakukan pembelajaran studi lapangan di luar sekolah. Secara umunya, kegiatan studi lapangan ini hanya diterapkan oleh beberapa sekolah Internasional yang jumlah siswanya masih memungkinkan untuk mengajak para siswanya untuk belajar di luar sekolah. Sedangkan pada sekolah swasta, masih sangat jarang didengar adanya kegiatan pembelajaran di luar sekolah karena mengingat banyaknya jumlah murid-murid mereka yang tidak memungkinkan diadakannya kegiatan Fieldtrip. Selain itu, suatu organisasi dari sekolah tersebut juga memerlukan biaya yang cukup besar untuk menyelenggarakan studi lapangan tersebut. Fieldtrip bukanlah suatu kegiatan bagi para murid untuk bertamasya ataupun bermain saja diluar lingkungan sekolah. Namun biasanya Fieldtrip tersebut dilakukan dengan menyertakan tugas laporan yang hendak mereka cari tentang informasinya. Para murid biasanya diberi suatu kertas laporan untuk menuliskan informasi apa saja yang mereka dapatkan lalu diberi tes berupa ulangan untuk mencoba pengetahuan yang mereka peroleh dari kegiatan studi lapangan tersebut. Ada juga beberapa guru yang akan menganjurkan mereka untuk menuliskan artikel ataupun jurnal dari wilayah objek wisata yang telah mereka kunjungi sehingga adanya suatu laporan dari setiap siswa yang telah melakukan pengamatan studi lapangan. Inilah kegiatan Fieldtrip yang telah diterapkan oleh beberapa sekolah pada umumnya. Namun tidak sedikit pula kendala-kendala yang ditemui dalam merencanakan field trip. Lokasi yang akan dituju misalnya. Minimnya informasi dan akses menuju lokasi wisata terutama wisata pendidikan membuat banyak sekolah yang merencanakan fieldtrip pada akhirnya memilih untuk menyerahkan perencanaan dan pelaksanaan Wisata Sekolahnya kepada School Trip Organizer. School Trip Organizer adalah perusahaan perencana kegiatan yang hanya memfokuskan diri dibidang perencanaan serta pelaksanaan kegiatan Field Trip Sekolah. Salah satunya adalah Wisata Sekolah.com. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2009 ini pada awalnya adalah sebuah perusahaan perencana kegiatan Outdoor Activity. Namun banyaknya permintaan dari pihak sekolah pada akhirnya membuat Wisata Sekolah.com hanya memfokuskan diri dalam perencanaan dan pelaksanaan Fieldtrip Sekolah saja. “Semenjak Websitenya diluncurkan, setiap saat telepon di kantor berdering terus menerus… ” ujar Mbak Erna, manajer operasional Wisata Sekolah.com. Dari sekedar menanyakan informasi tentang lokasi wisata edukasi maupun permintaan untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Fieldtrip. Tidak sedikit sekolah swasta maupun negeri bahkan sekolah Internasional yang mempercayakan fieldtrip sekolahnya kepada Wisata Sekolah.com. Jakarta Internasional Multicultural School Ciputat misalnya. Mereka mempercayakan pengelolaan Wisata Edukasi Sekolahnya kepada Wisata Sekolah.com. Lokasi wisata edukasi yang unik dan menarik serta tim yang profesional menjadi modal utama. Menurut Mbak Erna, memang sebagian besar crew Wisata Sekolah.com adalah orang-orang yang biasa bekerja sebagai Trainer dan Fasilitator Outbound. Ini menjadi salah satu nilai tambah dari Wisata Sekolah.com. Berbeda lagi dengan Tunas Mulia School, Gading Serpong, Tangerang. Membayangkan antusias murid-murid melihat kapal perang TNI AL dan mengendarai Tank menjadi salah satu alasan sekolah ini mempercayakan Fieldtrip Sekolahnya kepada Wisata Sekolah.com. Tak ayal wisata edukasi yang unik dan menarik ini membuat DAAI TV, salah satu Stasiun Televisi swasta di Jakarta ini ikut serta meliput kegiatan Fieldtrip Tunas Mulia School bersama Wisata Sekolah.com dalam program Liputan Cilik. Mungkin saja kegiatan Fieldtrip ini akan mulai berangsur dan diterapkan oleh pihak sekolah lainnya karena studi lapangan di luar sekolah ini mampu memberikan manfaat yang lebih untuk para siswanya. Akankah semua sekolah dapat mencanangkan program ini? Semoga saja…
Mengintip Indahnya Sekolah Berbasis Wisata Edukasi di Purbalingga
Purbalingga, Gatra.com – SMP Negeri 2 Karangreja memang berbeda dari sekolah lanjutan tingkat pertama lainnya. Sekolah ini mengusung konsep pendidikan yang dibungkus menjadi tempat wisata edukasi.
kepala SMP N 2 Karangreja, Riswanto mengatakan pihaknya menerapkan konsep Wisata Pendidikan Adiwiyata Purbalingga, sekolah ini memiliki target menjadi sekolah yang dikunjungi bukan hanya untuk belajar. Di dalamnya, terselip rekreasi atau hiburan yang membuat anak-anak meras pendidikan bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan.
Sekolah yang awalnya terlihat apa adanya dan terkesan kumuh ini berhasil disulap menjadi sekolah yang nyaman. Riswanto mengaku perlu waktu 18 bulan untuk mengubah sekolah itu menjadi seperti sekarang.
“Kami punya mimpi sekolah ini menjadi tujuan wisata edukasi tentang pemanfaatan lahan atau pun pemanfaatan limbah. Kami ingin sekolah-sekolah di Purbalingga menengok ke sini guna melihat apa yang telah kami lakukan sehingga kami menjadi sekolah adiwiyata,” kata Riswanto.
Yang membanggakan, kata Riswanto, SMP Negeri 2 Karangreja telah menjadi sekolah adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah. Menurut dia, capaian ini merupakan kerja keras semua pihak yang dilakukan terus-menerus.
Saat disinggung mengenai pendanaan, dia mengaku hanya memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar sekolah. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar dan masih amat terjangkau.
“Perlu waktu 18 bulan. Ini berkat kerja keras semua pihak khususnya para guru dan siswa yang bahu membahu menjadikan sekolah ini menjadi seperti sekarang,” ujarnya.
Kini, SMP N 2 Karangreja tengah mempersiapkan diri menjadi sekolah adiwiyata tingkat nasional. Konsepnya sama, yakni Spendak Wispalingga (SMP Negeri 2 Karangreja Wisata Pendidikan Adiwiyata Purbalingga).
Dia pun mengklaim, sekolah yang dia pimpin ingin selangkah lebih maju di depan dengan cara mengembangkan konsep tersebut menjadi tren. Kini, banyak sekolah yang telah melakukan studi banding ke SMP N 2 Karangreja.
Tercatat sampai dengan bulan November ada 10 kelompok yang melakukan studi banding di antaranya SMP N 1 Padamara, SMP N 2 Karangmoncol, SMP N 4 Karangmoncol, SMP N 2 Kemangkon, SMP N 1 Mrebet.
Kemudian, SMP N 2 Mrebet, SMP N 2 Purbalingga, DKR Kwaran Karangreja, Kepala sekolah dan Guru SD di lingkungan Kecamatan Karangreja, Siswa-siswi SD di lingkungan Desa Kutabawa dan Serang.
“Dulu sekolah kami ditertawakan ketika baru akan merintis sekolah adiwiyata. Sekarang banyak sekolah yang melakukan studi banding ke sekolah ini,” dia menambahkan.
Artikel By : www.vallet.id Kaligrafi Asal Usul Kaligrafi Dalam seni rupa Islam, tulisan arab seringkali dibuat kaligrafi. Biasanya isinya disadur ayat-ayat Al-Quran. Bentuknya bermacam-macam, tidak selalu pena di atas kertas, tetapi seringkali juga ditatahkan di atas logam atau kulit. Salah satu bentuk penerapan kaligrafi Islam sebagai seni hias adalah di Istana Al Hamra, Spanyol. Jenis jenis Kaligrafi Islam dibedakan berdasarkan bentuk huruf dan fungsi tulisan tersebut. Tulisan untuk dokumen dokumen resmi misalnya, menggunakan jenis jenis kaligrafi tertentu yang berbeda dengan tulisan tulisan kaligrafi untuk hiasan dan sampul sampul buku. Para tokoh kaligrafi, sejak abad ke-3 H / 9 M telah mengembangkan beragam jenis tulisan dan memberikan nama nama tertentu untuk membedakannya dengan yang lain. Maka banyaklah sebutan sebutan untuk jenis jenis kaligrafi. Sebutan sebutan itu cukup membingungkan karena satu jenis tulisan kaligrafi disebut dengan nama nama yang berma...
Artikel By : www.vallet.id HaloDoc adalah suatu trobosan yang memanfaatkan teknologi terkini yang menawarkan kemudahan dan mempersingkat wkatu untuk mengakses kesehatan pada saat pengguna membutuhkan pertolongan dokter. Adalah HaloDoc, sebuah teknologi aplikasi kesehatan terpadu yang memfasilitasi interaksi antara dokter dengan pasien . Tujuan dari HaloDoc ini menyederhanakan akses kesehatan. Pasien bisa dengan mudah berhubungan dengan dokter lewat gawai. Aplikasi ini juga terkoneksi dengan ApotekAntar dan juga laboratorium. Bukan hanya itu, terkoneksi pula dengan aplikas lab, dimana memudahkan pengguna untuk memsan jasa laboratory test dari laboratorium resmi yang dapat dilaksanakan dimana saja. Ekosistem HaloDoc dirancang untuk memfasilitasi kemudahan masyarakat dan mempersingkat akses pelayanan kesehatan. HaloDoc juga memiliki fitur yang memungkinkan pengguna dapat berkomunikasi deng...
Artikel By : www.vallet.id Prestasi dan pencapaian membutuhkan perjuangan tanpa henti dan kemauan untuk mengikuti proses. Orang-orang sukses dan berhasil pasti menghadapi banyak kesalahan selama perjalanan menempuh tujuan dan senantiasa menghadapi tantangan yang ada di depan mata. Mereka akan terus berjuang, bekerja keras, dan memiliki keyakinan bahwa mereka bisa mencapai impian yang diinginkan. Terapkan 4 kiat di bawah ini untuk meraih prestasi dan mencapai tujuan Anda dengan mudah hingga berhasil. 4 Kiat untuk Meraih Prestasi dan Mencapai Tujuan Anda 1Jangan Menjadikan Keterbatasan Sebagai Penghalang Keterbatasan menjadi salah satu penyebab mengapa banyak usaha yang dilakukan gagal untuk meraih kesuksesan. Keterbatasan yang dimiliki memberikan Anda keyakinan yang negatif tentang diri sendiri dan merasa tujuan terlalu sulit untuk bisa tercapai. Jangan pernah menjadikan batasan sebagai alasan untuk menyerah pada impian jika Anda ingin meraih peresta...
Comments
Post a Comment